2PA01
NPM: 16516610
Psikologi & Teknologi Internet#
Semakin
berkembangnya teknologi dan internet maka semakin berkembang pula
inovasi-inovasi yang dihasilkan oleh teknologi internet, seperti munculnya berbagai
tes online. Salah satu tes yang kini berkembang di internet ini adalah tes
psikologi. Psikologi pun ikut merasakan akibat perkembangan inovasi ini. Tes
psikologi online pun mulai semakin banyak bermunculan di internet, termasuk fingerprint. Sebuah tes yang tadinya
hanya bisa dilakukan secara langsung disuatu tempat, sekarang bisa dilakukan
dimana pun, kapanpun, sangat mudah dicari.
Tes
psikologi merupakan proses pengujian yang menggunakan berbagai kombinasi teknik
untuk membantu menghasilkan hipotesis/gambaran tentang perilaku, kepribadian
dan kemampuan seseorang.
Tes
psikologi mempunyai fungsi untuk mengukur perbedaan-perbedaan antara
individu-individu atau antara reaksi-reaksi individu yang sama dalam situasi
yang berbeda.
Hakekat tes psikologi/syarat tes
yang baik:
1. Valid:
memiliki
keabsahan atau kesahihan. Mampu mengukur apa yang mau diukur
2. Reabilitas:
memiliki
konsistensi, sejauh mana hasil suatu pengukuran itu dapat dipercaya dan jika
perlu harus dilakukan test-retest
reability.
3. Dibakukkan
atau terstandardisasi
Keragaman cara
dalam penyelenggaraan dan penskoran tes. Menyangkut isi ,materi yang digunakan,
batas waktu, intruksi-intruksi lisan, demontrasi awal, skoring tes,
interpretasi hasil tes dan setiap rincian yang lain.
4. Penerapan
norma-norma.
Yaitu dengan cara
membandingkan nya dengan skor-skor yang didapatkan oleh orang lain pada tes
yang sama. Jadi, penyebaran skor-skor dari suatu kelompok yang digunakan
sebagai patokan untuk memberi makna pada skor-skor individu. Kemudian, tes
psikologi tidak memiliki standar lulus atau gagal.
Jadi, bisa ditarik kesimpulan bahwa tes yang objektif adalah sebagai
berikut:
- Situasi tes sama untuk semua orang yang dites
- Pelaksanaan tes harus ada ketentuan bakunya
- Tes harus ada ketentuan dalam perhitungan skoring
- Harus ada cara untuk menganalisis skor tes
- Harus ada ketentuan untuk menginterprestasikannya.
- Memiliki kriterium dalam memprediksi yang menunjukkan suatu fakta atau peristiwa yang diramalkan oleh tes tersebut
Jika
ditanya bagaimana pendapat penulis mengenai hal ini? Mengikuti tes psikologi
secara online tentu saja harus mempertimbangkan keuntungan dan kerugian yang
didapat.
Tes secara online ini memiliki dampak yang positif, seperti:
- menghemat waktu, lebih cepat, fleksibel, efisien karena dapat melakukannya kapan saja dan dimana pun dengan menggunakan internet.
- Hasil testnya langsung dapat diketahui tanpa menunggu waktu yang cukup lama. Hasil tes dapat dikirimkan melalui e-mail.
- Mengetahui tipe dan tips dalam mengerjakan soal-soal psikotes.
Selain positif, tes
online ini juga memiliki dampak negatif, seperti:
- Membuat masyarakat menjadi memlih cara yang instan tetati tidak mendapatkan hasil yang memuaskan.
- Hasilnya cenderung tidak akurat.
- Jika dalam internet, jika kita mendapatkan sesuatu hal yang ambigu, kita cenderung tidak tahu harus ditanyakan dengan siapa. karena tidak ada benar-benar wujud manusia yang dapat ditanyakan. Jika kita menghubungi kontak yang tertera di web, cenderung sama saja hasilnya yaitu mendapatkan balasan yang lama lagi, dan cenderung tidak leluasa untuk bertanya.
- Kurangnya validitas, karena hasil tes sudah terprogram dan membuat hasilnya sangat kaku.
- Tidak adanya kontrol kepada testee dari tester, karena testee tidak dapat diamati secara langsung oleh yang memberikan tes.
- Dalam internet, ada satu bahasan yang masih menjadi bahan pembicaraan sampai saat ini, yaitu bocornya informasi individu dalam internet. Di internet kemungkinan kerahasiaan data individu dapat terancam, sedangkan dalam pengukuran memiliki sebuah syarat yaitu merahasiakan data dan informasi mengenai subjek yang diukur.
Nah, jadi jika ditanya percaya
atau tidak dengan hasil tes online ini, maka menurut penulis balik ke syarat
tes yang objektif. Jadi tergantung tes yang mau kita ikuti. Apabila tes
tersebut sesuai dengan syarat tes yang baik, dan benar-benar ditulis dengan
jelas seperti apa, seperti nama tes, jenis tes, tujuan tes, lembaga yang
membuat tes, tahap pelaksanaannya, benar-benar ada ketentuan dalam
interpretasikannya, kemudian dapat memberi tahu dengan jelas dan dapat
dipercaya bahwa informasi klien benar-benar dijaga kerahasiannya dan tercegah
dari bocornya data informasi di internet, serta hasil tes dapat di beri tahu
kepada klien. Bagi penulis tes tersebut bisa kita percayai untuk kita ikuti.
Untuk tes melalui fingerprint pun, menurut saya itu benar-benar menghasilkan hasil yang tidak akurat. Kepribadian seseorang tidak bisa hanya dilihat hanya dari sidik jari seseorang. Bahkan, sebenarnya agensi seperti FBI dan yang berhubungan dengan hal tersebut lah yang memiliki sidik jari dari orang-orang dan berarti bersifat sangat rahasia. Artinya, apakah mungkin dengan mudahnya seseorang yang membuat tes fingerprint mendapatkan sidik jari dari beribu-ribu atau berjuta-juta orang? dan apakah mungkin tes langsung dapat terlihat sepersekian detik saja setelah dilakukannya scan sidik jari?
Jika ditanya untuk memilih,
penulis tentu akan tetap memilih tes secara langsung tidak mengikuti secara
online. Walaupun secara online kita dapat menghemat waktu dan lebih efisien,
tetapi tes secara langsung membuat individu dapat lebih mengerti apa yang
dikerjakan, serta tidak perlu cemas tidak mendapatkan hasil yang akurat. Dan
apabila terdapat informasi yang ambigu, individu tentu bisa langsung bertanya
kepada tester. Kemudian, di tes online ini cenderung lembaga atau yang membuat
tes ini masih sering diragukan. Namun, semua ini tergantung kepada individu
masing-masing.